Berita Paguyuban Warga Perantau Untuk Pembinaan Ekonomi



Posted on: 19 Mar 2018 Oleh Web Admin

 

JAKARTA – Meninggalkan kampung halaman tercinta untuk alasan ekonomi harus dilakukan dengan niat dan keyakinan tinggi. Seperti yang dilakukan ribuan warga Boyolali yang mengadu nasib di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan di wilayah lain. Berbagai paguyuban atau kelompok/komunitas perantau yang merekatkan hubungan mereka selama tinggal di daerah lain jauh dari tempat tinggal kelahirannya.

Paguyuban Keluarga Besar Warga Boyolali di Jabodetabek menjadi wadah para perantau yang berada di wilayah Jabodetabek. Bahkan setiap kecamatan juga memiliki paguyuban tersendiri dengan pengurusnya
masing-masing. Terlihat guyub dan rukun seperti terlihat di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Minggu (18/3). Ketua Paguyuban Keluarga Besar Warga Boyolali di Jabodetabek, Suwandi melantik pengurus Paguyuban Kecamatan Boyolali dan Paguyuban Kecamatan Kemusu.

Suwandi menyampaikan keberadaan paguyuban yang semula untuk kegiatan sosial kini bergeser kepada kegiatan ekonomi. Berawal dari kegiatan sosial keagamaan, seperti pengajian atau arisan bergeser untuk
pembinaan ekonomi.

Pihaknya juga menyampaikan berbagai program kegiatan untuk mendukung paguyuban. Hal terebut diantaranya sosialisasi kewirausahaan, permodalan hingga program mudik gratis yang digelar menjelang hari
raya Idul Fitri.

“Mulai hari ini kita daftar siapa yang mau mudik gratis. Tahun kemarin ada 55 bis, tahun ini kita buka kesempatan bagi siapa saja mau membantu,” terang Suwandi yang telah menjabat ketua paguyuban selama
10 tahun ini.

Mudik lebaran gratis ini diperuntukkan bagi warga Boyolali yang bekerja pada sektor informal. Selain dari paguyuban Boyolali, Paguyuban Jawa Tengah juga siap mendukung program mudik gratis ini dengan moda transportasi bis dan kereta api.

Sementara salah satu perantau yang berhasil ditemui, Muhammad Wahyu telah meninggalkan kampung halamannya di Kecamatan Kemusu selama belasan tahun. Bekerja sebagai tukang batu dalam proyek perumahan, warga Desa Kauman itu hanya berkesempatan ke tempat kelahirannya setahun dua kali. Tinggal di daerah lain, dia juga bergabung dalam paguyuban warga untuk merekatkan persaudaraan bersama teman atau saudara lainnya.

“Paguyuban menjadi ajang kumpul, merekatkan persaudaraan dan tukar pengalaman,” terangnya. (mjk)

Berita

Pengumuman

Link SKPD

instagram takipçi

instagram takipçi beğeni işlemleri

instagram takipçi işlemlerinizi kolay ve güvenilir şekilde sürdürmek istiyorsanız eğer size tavsiyemiz mutlaka bu siteyi kullanınız angel shell